Contoh Teks Naskah Pidato HUT RI Ke 68 Tahun 2013

Contoh Teks Naskah Pidato HUT RI Tahun 2013 - Merdeka! Merdeka! Merdeka! inilah kata yang paling sering diucap ketika Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia tiba. Di tahun 2013 ini, tak terasa usia negara ini sudah 68 tahun. Beragam kegiatan diadakan untuk menyemarakan dan mengenang jasa para pahlawan yang telah berjuang demi merdekanya Indonesia. Salah satunya adalah Apel Bendera 17 Agustus.

Upacara Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus ini biasanya dilakukan oleh Instansi pemerintah, pihak swasta, dan sekolah-sekolahan. Tentunya dalam setiap Apel tersebut akan ada amanat dari pembina upacara yang penting untuk didengarkan. Karena itulah disini TERindeks share contoh naskah pidato HUT RI ke-68 tahun 2013 ini.

Contoh teks naskah pidato HUT RI ini nantinya bisa kamu gunakan sebagai rangkuman inti dari amanat yang akan kamu sampaikan pada kegiatan resmi upacara kemerdekaan Indonesia 17 Agustus besok baik di kantor dan instansi pemerintahan bahkan tak terkeucali di sekolah-sekolah.

Berikut contoh teks pidato Dirgahayu RI ke-68 tahun 2013.
Bismillahirahmanirrahim
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam Sejahtera Bagi Kita semua,

Warga Masyarakat Yogyakarta yang Patriotik,

“Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil sikap nasib bangsa dan nasib Tanah Air kita di dalam tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri akan dapat berdiri dengan kuatnya”, demikianlah cuplikan Pidato Pengantar Bung Karno sebelum membacakan Teks Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945 jam 10.00 pagi di Pegangsaan Timur Nomor 56 Jakarta.

Pada awal pidatonya Bung Karno mengatakan, “ Saya minta Saudara-saudara hadir di sini untuk Daerah Istimewa Yogyakarta menyaksikan satu peristiwa maha penting dalam sejarah kita. Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia telah berjuang, untuk kemerdekaan Tanah Air kita bahkan telah berates-ratus tahun. Gelombang aksi untuk mencapai kemerdekaan itu ada naiknya dan ada turunnya, tetapi jiwa kita tetap menuju kea rah cita-cita”.

Demikian pula pada hari ini, 17 Agustus 2013, saya juga minta Saudara-saudara hadir di sini, untuk memperingati Detik-Detik Proklamasi seraya melanjutkan cita-cita kemerdekaan itu. Gaung suara yang hanya beberapa detik itu adalah sebuah peristiwa besar yang telah mengubah jalan sejarah bangsa Indonesia. Sekalipun sangat sederhana, tetapi berlangsung dengan penuh kekhidmatan.

“ Gema Lonceng Kemerdekaan” itu akan terdengar ke seluruh pelosok Nusantara dan menyebar ke seantero dunia. Tetapi di balik itu, Proklamasi ternyata didahului oleh perdebatan hebat antara golongan pemuda dengan Daerah Istimewa Yogyakarta golongan tua, yang sesungguhnya sama-sama menginginkan secepatnya dilakukan Proklamasi. Perbedaan ini menimbulkan “penculikan” Bung Karno
dan Bung Hatta oleh kaum muda yang dalam sejarah dinamakan Peristiwa Rengasdengklok.

Meski begitu Bung Karno dapat meyakinkan pemuda Chaerul Saleh dan kawan-kawannya itu,dengan menjelaskan bahwa yang terpenting dalam revolusi adalah saat yang tepat. Sejak di Saigon, Bung Karno sudah merencanakan Proklamasi pada tanggal 17.

Karena angka 17 di bulan Ramadan bertepatan hari Jumat Legi adalah hari yang suci. Bukankah Al-Qur’an diturunkan tanggal 17, orang Islam sembahyang 17 Rakaat. Menurut Bung Karno, kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia. Demikian pula, hari ini bertepatan dngan bulan Ramadan pada hari Jumat juga, maka tema :

“ Dengan Semangat Proklamasi 17 Agustus 1945, Kita Bekerja Keras untuk Kemajuan Bersama, Kita Tingkatkan Pemerataan Hasil-hasil Pembangunan untuk Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”, dapat menjadi semacam misi suci untuk diwujudkan. Warga Yogyakarta yang memang Istimewa, Harapan itu tampaknya sesuai dengan kalimat penutup Pidato Bung Karno, “Kita sekarang telah merdeka…!!! Mulai saat ini kita menyusun Negara kita..!!!

Negara Merdeka, Negara Republik Indonesia – Merdeka Kekal dan Abadi. InsyaAlloh Tuhan memberkati kemerdekaan kita itu !”.Selain itu, tema ini seakan juga mengisyaratkan bahwa aspek pemerataan dan keadilan itu sangat mendesak untuk diwujudkan. Karena ketimpangan kesejahteraan terasakan semakin dalam, selain penegakan hokum yang belum memenuhi rasa keadilan di tengah maraknya virus korupsi yang sistemik.

Namun sekarang ini, semangat Proklamasi itu justru menyempit, mengkristal dalam kelompok. Politik identitas suku, daerah dan agama mudah menguat, memunculkan radikalisme keagamaan dan primordialisme etnisitas. Jika kemajemukan tidak berhasil disinergikan menjadi modal social, dikhawatirkan akan mengancam stabilitas dan eksistensi Republik.

Maka, marilah kita kembali pada Semangat Proklamasi yang memiliki jiwa merdeka, keikhlasan untuk berkorban, tekad bersatu dengan kesadaran hidup dalam kebhinnekaan untuk mewujudkan pemerataan hasil-hasil pembangunan demi keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia. Semoga Tuhan Yang Maha Adil berkenan menunjukkan arah di Jalan lurus-Nya, agar Semangat Proklamasi 1945 itu benar-benar dapat kita jaga, kita pelihara dan kita kembangkan, untuk dapat memetik

“buahnya” secara adil dan merata, sehingga mampu mempercepat tercapainya misi menyejahterakan dan mencerdaskan bangsa sesuai Amanat Proklamasi. Akhir kata , Dirgahayulah Rakyat, Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia !! Sekali Merdeka, Tetap Merdeka !!

Sekian terimakasih,

Wassalamu’alaikum, Wr. Wb.
Demikianlah contoh pidato HUT RI yang bersumber dari teks pidato Gubernur Yogyakarta pada pelaksanaan HUT RI 67 Tahun 2012. Dirgahayu Republik Indonesia ke-68, Tambah usia, Tambah jaya. Merdeka!

Post a Comment